|
News |
|
|
|
Saat ini ada 19 tamu online |
|
|
|
Euro II & III, Bahaya Polusi Kendaraan Bermotor (II) |
|
Friday, 16 November 2007 |
Jangan salahkan motor, dong! Bus-bus yang nyemprot asep item kayak semburan cumi-cumi apa kurang bukti? (08569472XXX) Komentar seperti di atas mencuat ketika pemberitaan media massa melansir pemeringkatan penyebab polusi di tanah air beberapa tahun lalu. Sepeda motor saat itu dituding lebih polutif ketimbang mobil. Kita tidak bisa menyalahkan begitu saja komentar tersebut, namun juga pemeringkatan tersebut adalah hasil penelitian yang memiliki basis validitas metodologis tersendiri.
Perang terhadap polusi udara memang sudah lama berlangsung. Namun untuk kasus kendaraan bermotor baru awal milennium inilah mulai benar-benar dilirik. Sejak tahun 2004 Euro II mulai diterapkan kepada semua kendaraan bermotor yang diproduksi atau menjadi model pada tahun itu. Beberapa kendaraan tipe lama seperti RS 250 atau NSR dan RGV sudah tutup buku menyusul ketidakmampuannya mengikuti tuntutan regulasi baru. Rata-rata motor 2 tak dengan cc lumayan besar, semisal > 250cc di atas segera menyingkir. Pasalnya, Euro II mensyaratkan kendaraan yang lolos harus bisa memenuhi 1gr/km hidrokarbon (HC), 0,3 gr/km nitrooksida (NOx), dan hanya 5.5gr/km untuk karbonmonoksida (CO). Cukup berat bagi motor dua tak bercc besar, bukan? Akan halnya motor-motor tipe besar dengan tipe mesin 4 tak masih lebih mudah menyesuaikan diri. Demikian pula motor-motor 2 tak cc kecil , 200cc. Penggunaan catalyc conventer, injeksi udara bersih pada saluran pembuangan, dan penggunaan sistem injeksi yang lebih presisi pada pembakaran mampu menekan kadar emisi ke angka yang bisa diterima regulasi, tanpa harus kehilangan tenaga secara drastis. Untuk kasus di negara kita, motor-motor dua tak yang sudah punya reputasi tinggi, seperti seri Ninja dan RX King, masih boleh diproduksi. Regulasi tersebut sangat ketat diterapkan di Eropa. Imbasnya terlihat pada seri kejuaraan dunia MotoGP yang sejak 2003 sudah menggunakan mesin 4 tak. Juga dengan dihentikannya produksi mesin-mesin yang dianggap akan gagal memenuhi syarat dan ketentuan berlaku. Indonesia yang setiap kebijakannya banyak dikontrol Eropa, segera meratifikasi pula standar Regulasi Emisi Eropa tersebut. Kali ini bagus-bagus saja, karena parahnya polusi saat ini mengharuskan kita semua ikut mendukung gerakan bumi hijau. Pada tahun 2007 di Eropa sana, regulasi Euro III datang menggantikan Euro II. Dengan regulasi baru ini, standar kebersihan emisi kendaraan lebih diperketat lagi. Sebuah kendaraan hanya boleh menghasilkan 0.3gr/km hidrokarbon (HC), 0,15 gr/km nitrooksida (NOx), dan hanya 2gr/km untuk karbonmonoksida (CO). Angka-angka ini jauh lebih ketat dari Euro II sebelumnya. Penerapan standar Euro III membuat sejumlah kendaraan mengalami penurunan performa tenaga dan peningkatan bobot. Sebagai contoh, hampir seluruh sport bike di jajaran supersport seperti GSXR 600, R6, ZX6RR mengalami peningkatan bobot sekitar 5-10 kg. Hanya CBR600 yang bisa menurunkan bobot sekaligus meningkatkan tenaga pada saat bersamaan tanpa melanggar standar emisi gas buang. Hal yang sama berlaku pada berbagai motor dengan kapasitas mesin yang lebih besar dan lebih kecil. Dengan standar Euro III, kemungkinan besar motor-motor 2 tak lebih sulit untuk memenuhi regulasi. Sistem pembakaran yang lebih sederhana, teknologi yang lebih jadul, serta penggunaan katalis yang lebih rumit akan mencegah teknologi motor ini dari kelulusan ujian. Sementara motor-motor 4 tak lebih mudah beradaptasi, baik dengan perbaikan pada sistem injeksi dan komputerisasi pembakaran pada umumnya, maupun pada desain sistem buang yang lebih baik.  Sayangnya, apapun yang dibuat pada kendaraan demi mengikuti standar Euro akan sulit diterapkan di Indonesia dengan baik. Selain soal law enforcement yang lemah dan prangkat pengujian dan regulasi yang terbatas, juga ego bikers itu sendiri yang sulit dilawan. Bagi pemilik sebuah R6 misalnya, sangat sulit bertahan dengan kenalpot standar pabrikan. “Suaranya begitu halus, nyaris tak terdenger, bro”, demikian komentar seorang biker moge. “Bahaya kalo knalpot ga diganti. Motor kenceng ga ketahuan orang di depan kita,” tambahnya… Lgi pula R6 seberapa polutif sih? Rupanya pameo lama “Big pipes save life” masih sangat perlu di belantara jalan-jalan Indonesia yang semberawut ini!!! Jika sudah begini, sulit bagi kita mencari pintu ke arah udara yang lebih bersih di Indonesia. Posted by ilham in : Biker, Kampanye, Otomotif, Sharing , trackback |
|